Nias Utara, [bhayangkaraNews.id]Warga Desa Silima Banua Kecamatan Tuhemberua, Nias Utara (Nisut) tega membunuh abang kandungnya Tanoaro Gea pada 3 November lalu karena berselisih masalah tanah warisan

Kronologi pembunuhan sesuai keterangan Kapolres Nias AKBP Wawan Iriawan SIK dalam temu pers, Selasa (10/11/2020). Pada Selasa 3 November lalu tersangka pulang memancing dari laut. Dia disapa korban dengan mengatakan sepetak lahan warisan orang tua mereka merupakan miliknya, bukan milik tersangka

Saat itu mereka bertengkar mulut hingga korban mendatangi tersangka dan memukul berkali kali. Karena kesal, tersangka melawan dengan memegang kepala abangnya lalu menghunuskan pisau ke perut korban hingga tewas

Saat ditanyai kapolres sewaktu temu pers, tersangka mengaku terpaksa membunuh abangnya karena jengkel dirinya selalu diganggu dengan cara merendahkan serta mengklaim sejumlah tanah orangtua mereka adalah milik korban. "Sesuai perbuatannya pelaku terancam 15 tahun penjara," jelas kapolres

Dalam kesempatan itu, Kapolres didampingi Kasat Reaskrim Junisar Rudianto Silalahi, Kabag Ops AKP SK Harefa, Kapolsek Tuhemberua AKP IB Jaya Harefa dan Kapolsek Bawolato Benyamin Lase juga merilis informasi pembunuhan yang dilakukan YZ warga Desa Gajamanu, Kecamatan Bawolato, Nias terhadap Firminus Faozanolo warga yang sama, terjadi pada 1 November lalu.

Kronologisnya, korban yang mengendarai sepedamotor berhenti di depan rumah tersangka. Korban pun memaki maki tersangka yang duduk di teras rumahnya

Tersangka kemudian menghampiri korban, dan tiba tiba saja korban sudah memengang sebilah pisau. Firminus mengayunkan pisau namun berhasil dielakkan tersangka. Selanjutnya tersangka berusaha mendapatkan pisau lalu mendorong ke arah leher Korban hingga akhirnya korban terluka

Setelah berhasil menguasai pisau, tersangka kemudian membacok kepala korban hingga tewas. Kapolres menjelaskan, tahun 2017 keduanya pernah bermasalah. Korban dihukum karena melakukan penganiayaan kepada tersangka. [057-SH]