ACEH TENGGARA, [bhayangkaranews.id]  - Tragedi pembakaran rumah wartawan serambi indonesia di Desa Lawe Loning Aman,  Kecamatan Lawe Sigala-gala, Aceh Tenggara yang terjadi pada 30 Juli 2019 hingga kemarin belum terungkap pelaku pembakar rumah wartawan, kendati hasil labfor mabes polri cabang menyatakan penyebab kebakaran itu terjadi akibat dibakar bukan terbakar.

"Hampir 1,5 Tahun rumah dibakar, tetapi kasus ini mangkrak di Polres Aceh Tenggara. "Takutlah kita kepada Allah, kalau benar katakan benar, kalau tidak benar katakan sebenarnya agar publik tahu," ujar Asnawi Luwi, korban rumah dibakar di Agara.

Kata dia, dalam kasus pembakaran ini, dirinya sudah pernah di BAP di Polsek, lalu Polres Aceh Tenggara bersama istri. Dan, kemudian, dua kali di BAP oleh Ketua Tim (Katim) Kasus Pembakaran Rumah Wartawan Serambi Aceh Tenggara dibawah pimpinan Iptu Sabrianda. 

Dalam pemeriksaan, kita sampaikan di BAP, adanya pria tak dikenal naik sepeda motor menyatakan dirinya dari Kota Kutacane yang langsung menyebut namanya kepada sang istri. Dan, juga Asnawi Luwi,  menambahkan dalam BAP, adanya pria tak dikenal yang menanyakan dirinya dimana dan temannya mau datang ke rumah ada hal penting. Namun, pada saat itu pada tanggal 27 September 2020, saya berangkat ke Banda Aceh dan kemudian Senin (29/7/2020) pulang ke Kutacane dan terjadi kebakaran pada 30 Juli 2019 pukul 01.30 WIB. 

Dalam penyidikan ini, kita juga meminta kepada aparat kepolisian agar secepatnya membuka SMS atau percakapan seminggu sebelum rumah saya dibakar dan setelah seminggu rumah saya dibakar ke pihak PT Telkomsel dengan melibatkan Tim IT Polda Aceh dan Mabes Polri dibawah Kabareskrim serta memeriksa dua orang yang berkomunikasi terhadap orang yang datang ke rumah tidak dikenal.  Tetapi, ini tidak juga dilakukan. 

"Kita khawatirkan semakin lama bisa alat bukti hilang seperti SMS, dan percakapan. Namun, kita percaya dengan alat yang canggih yang dimiliki Polri dan keseriusan penyidik Polres Aceh Tenggara bisa menuntaskan kasus ini dengan membuka seluruh SMS dan nomor handphone yang dicurigai. Tetapi, sampai kemarin, kata Asnawi Luwi,  perjalanan kasus pembakaran rumah saya masih tahap penyelidikan dalam konferensi pers di Mapolres Aceh Tenggara yang disampaikan penyidik kepada wartawan Kamis (31/12/2020). 

Dalam kasus ini, Kapolres Aceh Tenggara sudah pernah berganti, dan dua kasat Reskrim berganti. Namun,kasus ini masih seperti dahulu belum sampai ke meja hijau. "Ada apa dalam kasus pembakaran rumah saya yang kaitan dengan karya jurnalistik. Mari kita ungkap kasus ini dengan kebenaran apa adanya,"kata Asnawi Luwi saat ditemui bhayangkara news.id di uleekareng.

Seharus lanjut Asnawi, dari fakta yang ada dengan keterangan hasil Labfor Mabes Polri, alat bukti rumah dan mobil hangus serta saksi korban dan saksi lain sudah dapat ditingkatkan ke tahap penyidikan karena ada pelaku pembakaran bukan rumah terbakar sendiri. 

Menurut korban, dalam kasus ini dirinya sering berkomunikasi dengan Ketua Tim Penyidik Kasus pembakaran rumah saya yang dibentuk Kapolres Aggara. Bahkan, saya beberapa kali menyampaikan apakah handphone saya diperlukan untuk penyelidikan dan terakhir, beliau menyatakan, kasus ini adalah kebakaran bukan cyber crime, jadi tidak perlu handphone karena selama ini mereka sudah menelusuri jejak digital terhadap kasus pembakaran rumah wartawan serambi indonesia. Bahkan, Ketua Tim yang  dipercaya pada saat ini sudah dua kali mengekspos perkara pembakaran rumah wartawan serambi indonesia di Polda Aceh dan berkas perkara tersebut telah diserahkan kepada Kasat Reskrim Polres Aceh Tenggara. 

Ditambah korban rumah dibakar Asnawi Luwi,  pihaknya juga sebelumnya telah menyurati Kadiv Propam Mabes Polri, Kompolnas, dan mengirimkan surat melalui whatsapp kepada Nazaruddin alias Dekgam Anggota Komisi III DPR RI,  Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Jakarta dan juga surat pada 2019 sudah dilayangkan pihak Pos dan Giro pada Kapolri, Presiden,  Menkopulkam, Komnas HAM Jakarta, LPSK, Kompolnas. 

Surat dilayangkan sebagai bentuk kekecewaan saya, akibat lambannya kasus ini terungkap, ditambah lagi penyidik sebelumnya ketika ditanyai terkait kasus saya ditelp dan di whatsapp tidak merespon.

"Alhamdulillah, dengan surat permohonan saya ke LPSK sehingga  saat ini saya dibawah pengawasan LPSK, "katanya.

"Saya minta kepada Kapolri turunkan Tim Bareskrim Mabes Polri dan kepada Komisi III DPR RI Turunkan Tim Pencari Fakta dalam kasus pembakaran rumah wartawan di Agara,"kata Asnawi Luwi. 

Pihaknya saat ini juga diselimuti rasa was-was karena pelaku masih berkeliaran, saya minta kepada Kapolri, tahun 2021 menjadi prioritas dituntaskan kasus pembakaran rumah wartawan serambi indonesia di Agara." Kalau pernyataan polisi menyatakan korban tidak kooperatif,  itu keliru. "Mana surat panggilan yang tidak saya hadiri, jangan terlalu mengada-ngada. Penyidik Satreskrim di whatsapp dan Kapolres ditelp tidak pernah mau angkat hp hingga korban tidak mau lagi menelepon.[066-M]