(Fhoto: Saptari Wibowo)

Medan [bhayangkaranews.id], Saptari Wibowo, mahasiswa pasca sarjana USU, diundang khusus oleh Kolej Universiti Poly-Tech Mara (KUPTM) Kuala Lumpur, Malaysia, pada 24 – 27 Agustus 2022 mendatang dalam rangka tukar menukar informasi pendidikan, tradisi budaya dan kearifan lokal antara dua negara, khususnya dalam konteks Medan, sebagai ibukota provinsi ketiga terbesar di Indonesia, setelah Jakarta dan Surabaya.


 Selain itu, Wibowo, yang akrab dipanggil dengan ‘Mas Boy’ juga akan mempresentasikan konsep paradigma Society 1.0 – Society 5.0 dalam perspektif gambar 2 dimensi yang didesain dan dicetak khusus pada media kaos (t-shirt) dan telah mendapat apresiasi tinggi dari Datuk Azli (KUPTM), Prof Datuk Nizam bin Isa dari OXCEL Asia Pacific (Oxford Center for Leadership) yang merupakan organisasi internasional bergerak di bidang ‘Leadership Awards & Training’ dengan kantor pusat di London, UK, pada situs https:/oxcel.co.uk serta Ibu Reni Sunarty,SH.,M.H., Renchmark Konsultan Hak Cipta Kemenkumham. 


Saptari Wibowo selain aktif sebagai Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan di orgnasisasi Pro Jamin (Profesional Jaringan Mitra Negara) DPC Medan yang diketuai oleh H.Mahmud Effendi Pane, juga aktif sebagai ketua Indonesian Non-Native Speakers & Trainers Association (IN-NONA ESPEKTRA)  atau Asosiasi Penutur & Pelatih Bahasa Inggris Non-Native Indonesia. Wibowo menyampaikan bahwa bagaimana pemahaman konsep 1.0 – 5.0 itu akan menjadi sebuah entitas konstruksi signifikan dalam meningkatkan kecerdasan intelektualitas (intellectual brilliance) generasi muda Indonesia sekaligus mampu menjadi pemicu (trigger) milyaran sel otak manusia (neurons) untuk lebih aktif berkomunikasi dan membangun ruang-ruang informasi (information slots) pada otak manusia.  

Dengan perpaduan konsep  DOSEN OXYN (dopamine, serotonin, endorphin, oxytocin) yang dirancangnya dan merupakan hasil dari penjabaran dari konsep Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim.  Konsep Society 1.0 – Society 5.0 akan menjadi sebuah hasilkarya cipta orisinil (original works) yang memiliki rujukan ilmiah dari puluhan artikel pada jurnal internasional yang dibacanya. Menurut Wibowo, bangsa ini perlahan tapi pasti memasuki fase Society 6.0 “Forecasting Fate” dengan 3 (tiga) elemen fundamentalnya, yakni “Digits, Meta verse, Death”  Fase Society 6.0 merupakan lompatan dari Fase Society 5.0 yang dikenal dengan “A Human Centered Society” (Masyarakat yang berpusat pada manusia) atau mengembalikan kejayaan kearifan lokal ‘local wisdom glory’ yang dicanangkan oleh Parlemen Jepang pada tahun 2019 yang lalu.  

Wibowo menuturkan bahwa generasi Indonesia akan menjadi lebih baik lagi menjadi agen perubahan (agent of change) multidimensional dalam konteks upaya pengembangan SDM yang berkarakter kuat dan berbudaya melalui pemanfaatan nilai-nilai luhur tradisi budaya bangsa yang bersumber dari kearifan lokal. 

Dan hal tersebut dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan bangsa ini, yakni masalah ‘Kedamaian dan Kesejahteraan’ yang tidak bisa diselesaikan dengan hanya menghandalkan pendekatan teknologi, ekonomi, politik , dan lainnya yang notabene berasal dari pemikiran Barat “Seeing is Believing”, seperti yang dikutipnya dari Prof Robert Sibarani (2013), ketua Lembaga Penelitian (LP) Universitas Sumatera Utara. [BB-red]