Muara Enim [bhayangkaranews.id], Dampak limbah lumpur bercampur air yang telah terjadi  selama bertahun-tahun merendam hektarean kebun karet warga di desa pulau panggung, kecamatan tanjung Agung ,Kabupaten Muara Enim Sumsel m.15 juni 2022.



Limbah tambang tersebut berupa air bercampur lumpur ini berasal dari salah satu Disposal stok  tambang PT.BAS yg lokasi berada di Desa Pulau Panggung tepatnya di dekat lahan kebun masyarakat.


Tepat di samping lokasi tersebut dahulu masyarakat menyebutnya sebagai "Danau Pujaan"merupakan salah satu tempat wisata warga setempat.

Danau yang dahulunya anak sungai enim mengalir  dan  tepat di penampungan atau peresapan mengalir tapi sekarang kedua nya telah hilang musna di duga tertimbun  oleh limbah PT.BAS dan di jadikan Disposal Stok di mana bila hujan turun air dari Disposal yg bercampur lumpur mengaliri tempat tersebut dan juga menimbun kebun masayarakat.


Salasatu warga yang tetdampak dan dirugikan adalah Pak Abdul Mukti, dimana kebunnya yg produktif terkena dampak dari aliran disposal stok PT BAS tersebut,"ini sudah berlangsung terjadi sejak tiga tahun yang lalu kebun saya tercemar dan tanam tumbuh batang karet terancam mati,".


Ditambahkannya"Maka kami tidak bisa  menikmati  hasil  karet kami yg dulu sebelum terkena dampak perna menghasilkan 800 kg / bln .tetapi sekarang tinggal cerita" .


"Kebun yang tercemar limbah tambang tersebut seluas dua hektare dengan tanam tumbuh batang karet lebih kurang,sebanyak 1.000 pohon dan telah berusia lebih kurang 8 tahun,Saya khawatir akibat limbah ini pohon karet mati semuanya, sekarang ini setelah saya cek sudah ada lebih kurang 100 batang yang mati,"keluhnya.


Ditambahkannya bahwa Perusahaan sudah pernah menghubunginya untuk mengganti rugi, namun tidak sepadan dengan jumlah pohon karet yang tercemar."Perusahaan tambang sudah sempat menawarkan ganti rugi, namun harga yang ditawarkan tidak sesuai dengan kerugian yang kami terima," tutur pak Mukti.


Di kesempatan itu istri Pak Mukti becerita kepada Awak Media ia berharap perusahaan tambang tersebut dapat memberikan ganti rugi yang sesuai dengan kerugian yang dialami."Kalau mau bicara berapa biaya kerugian total sudah Ratusan juta rupiah di lihat dari usia taman tersebut.

Mengingat pohon karet tersebut merupakan bibit unggul, yang sudah ditanam selama 8 tahun dan sedang produktif".


Ditambahkannya"Kendati demikian, perusahaan tambang hanya menawarkan harga yang tak sesuai dengan yang kita inginkan, sebagai kompensasi ganti rugi terhadap ratusan pohon karet yang tercemar limbah tersebut",ujarnya


"Humas , tambang sempat berdalih bahwa  "tambang tersebut tidak lagi di gunakan".


Dan sementara itu Awak Media coba mengubungi ,humas PT BAS:Akwam,Lewat WA namun tidak memberi respon atau jawaban tentang perihal di atas,sampai berita ini di tayangkan.


(Reno)