Jakarta.  [ bhayangkara news id ] 
Pengasuh Pondok Pesantren Seblak Jombang, Jawa Timur, KH Halim Mahfudz MA, mengatakan, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali menjadi momentum baik Polri dalam menunjukkan profesionalitas di tengah sejumlah masalah yang sedang menerpa institusi.

Menurut Gus Iim, panggilan akrab KH Halim Mahfudz, Polri harus memanfaatkan G20 untuk mengembalikan kepercayaan publik serta menunjukkan prestasi bahwa dalam kondisi apapun tetap siap sedia membela kepentingan negara.

“Ini momentum yang baik untuk mengembalikan dan menunjukkan prestasi bahwa dalam kondisi apapun polisi tetap siap sedia membela masalah yang menjadi kepentingan negara,” jelas Gus Iim.

Polri sebelumnya sedang mengalami sejumlah masalah seperti kasus FS, Tragedi Kanjuruhan, dan kasus peredaran narkoba. Meski demikian, Polri tetap harus memilah masalah-masalah itu. Sekarang Polri harus fokus untuk menyukseskan G20. Terutama dalam sisi keamanan mengamankan G20.  

Jadi polisi harus segera memilah masalah yang terjadi itu. Sehingga tidak mempengaruhi kinerja dan tetap melaksanakan pengamanan terbaik untuk kegiatan besar internasional ini,” ujar Gus Iim. 

G20 merupakan pertemuan internasional yang menghadirkan sejumlah pemimpin dunia. Para pemimpin itu membutuhkan pengamanan kelas atas. Gus Iim pun yakin bahwa Polri akan siap menjamin pengamanan fisik bagi para pemimpin dunia tersebut. Salah satunya dapat dilihat dari diadakan Operasi Puri Agung 2022 yang melibatkan 9.700 personel kepolisian.

Namun, Gus Iim mengingatkan, aparat kepolisian juga harus memperhatikan keamanan nonfisik di ruang digital. Menurutnya, potensi munculnya desas-desus, fitnah, hate spech, dan kabar hoaks pasti ada. Jika tidak ditangani dengan baik, maka berpotensi memunculkan konflik.
“Sebagai aparat keamanan, harus memberikan kenyamanan kepada kepala negara yang hadir. Secara fisik saya yakin polisi punya pengalaman dan pengetahuan yang banyak karena sudah sering mengamankan acara internasional. Tapi kalau kemanan nonfisik itu yang harus jadi perhatian. Misalnya tidak ada lagi berita yang hoaks. Sebab tidak menutup kemungkinan ada orang yang tidak ingin acara G20 itu sukses,” ungkap Gus Iim.

Untuk mengatasi masalah nonfisik itu, Ia menyarankan polisi menggunakan strategi komunikasi atau pendekatan pentahelix (lima pilar). Pendekatan itu membuat lima pihak yaitu pemerintah, masyarakat sipil, badan usaha, akademisi, dan media massa saling berbagi perspektif untuk mendapatkan pandangan yang komprehensif dan utuh.

Gus Iim mencontohkan sebuah kasus di Jombang yang memanfaatkan pendekatan pentahelix. Dalam memperkuat gagasan toleransi dan menekan radikalisme, pihak Gus Iim bekerja sama dengan pemerintah (diwakili BNPT) untuk menekan radikalisme. Dari sisi masyarakat sipil, pihaknya bekerja sama dengan 10 pesantren terbesar dan tertua di Jawa Timur.

“Oleh karena itu, saya harap polisi membuka komunikasi dengan strategi pentahelix. Pendekatan itu juga sudah diakui oleh seluruh dunia. Apalagi tidak ada satu pun negara yang bisa menyelesaikan masalah sendirian. Harus ada kerja sama. Saya juga melihat di berita-berita, Polri masih kerja sama dengan lembaga pemerintah. Jadi saya tegaskan di luar pemerintah seperti kampus, dunia usaha, dia punya perspektif dan informasi sendiri. Mereka punya pandangan berbeda. oleh karena itu, itu harus dilakukan. Saya harap polisi menggunakan pendekatan pentahelix itu,” tutupnya.***

Sbr. Tribrata
in Opini
SHARE THIS POST