Foto : Wakil Ketua Perkumpulan Jurnalis Media Independen Sumatera Utara (JMI-SUMUT) Suyadi San, S.Pd, M.Si


(Medan)- bhayangkaranews Wakil Ketua Lembaga Perkumpulan Jurnalis Media Independen Sumatera Utara (JMI SUMUT) Suyadi San, S.Pd, M.Si, berpendapat bahwa Medan ini merupakan kawasan cerukan, tempat tumpahan air kiriman dari daerah kelilingnya, terutama Deliserdang. 


"Untuk itu, wilayah-wilayah perbatasan seharusnya tetap ada resapan air sempadan, sehingga apabila hujan di areal gunung atau perbukitan, air bisa terserap di resapan sempadan dan tidak serta-merta memberondong bak peluru senjata ke Kota Medan," kata Suyadi San, saat dihubungi Wartawan melalui telepon selulernya, Minggu (20/11/2022). 


“Hutan, itulah resapan sempadan, berfungsi sebagai penyangga. Jangan izinkan pengembang atau pemegang HPH membabat hutan di wilayah-wilayah perbatasan. Harus dihijaukan kembali. Percuma normalisasi sungai jika hutan penyangga banjir dirusak dan dihancurkan menjadi bangunan, karena cerukan, maka paru-paru kota juga harus tetap hijau," ujar Suyadi San, menyikapi persoalan banjir yang terjadi di Kota Medan, pada Jumat (18/11/2022) malam kemarin. 


Menurut Suyadi San yang juga selaku Tokoh Budayawan Kota Medan ini, percuma membangun drainase jika pohon-pohon ditebangi dan tidak direboisasi. Wali Kota Medan harus memberi contoh agar warga menanam sejuta pohon di pekarangannya. Jika terjadi kawasan baru wilayah banjir, berarti ada sistem yang salah.


Untuk itu, kata Suyadi San yang juga Senior Wartawan di Mimbar Umum ini juga mengatakan bahwa penanggung jawab sistem itu mutlak adalah Wali Kota. Pembangunan drainase berupa U-dicth hingga ke badan sungai dikhawatirkannya malah memindahkan banjir atau menciptakan banjir baru di tempat-tempat yang biasanya aman. 


Suyadi memberikan contoh dengan mengambil pelajaran dari Belanda yang memecah sungai-sungai, di Medan menjadi anak-anak sungai, ada berupa irigasi ada juga ke daerah rawa-rawa. "Kini wilayah ini menjadi permukiman, ya kena langganan banjir juga," ucapnya.   


Suyadi juga menambahkan, selain membangun resapan air, pemerintah tiga bulan sekali harus mengeruk parit-parit besar, anak sungai, dan hulu sungai. Sebab, produksi sampah per hari pasti membludak sekian ribu ton. Sebagian sampah itu pasti ada di dalam parit, anak sungai, dan sungai.


“Petugas kebersihan di tingkat lingkungan harus bekerja maksimal. Rekrut para penganggur menjadi tenaga harian lepas untuk mengutip sampah dari tempat-tempat atau rumah penduduk. Sampah-sampah itu penyebab banjir berkepanjangan," ungkap peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini. (RILIS JMI).