SERGAI Sumut Bhayangkaranews. - Koordinator penerima kuasa dari masyarakat penggarap yang lahannya di rampas sepihak oleh PT. Nusa Pusaka Kencana member of Asian Agri, sangat menyesalkan tindakan pengerusakan posko yang telah didirikan oleh keluarga besar masyarakat pengarap pada hari senin  (19/12/2022).






Pengerusakan barak tersebut di ketahui Budi Hartono (koordinator) Jum'at (23/12/2022) sekira pukul 10.00 WIB dari tim pemantau lapangan yang secara aplusan bertugas memantau keadaan posko yang berada di areal lahan sengketa 14,30 Ha.


Di saat didirikannya posko tersebut oleh tim penerima kuasa dan keluarga besar ahli waris, baik tim scurity dan centeng maupun pihak Polsek dan Polres Tebingtinggi, mendatangi lokasi posko tersebut.


Di saat posko selesai berdiri, Pihak Polres Tebingtinggi yang di wakili Kanit Intel Polsek Tebingtinggi Aiptu Todani Simanjuntak yang di dampingi Bhabinkamtibmas Desa Penggalian juga pihak PT. NPK melakukan negosiasi dengan Budi Hartono (koordinator) agar Pihak Keluarga Besar Masyarakat Penggarap 14,30 Ha jangan dulu melanjutkan pendirian posko tersebut.


"Bapak-bapak, saya berharap demi menjaga agar jangan terjadi benturan pisik antara bapak-bapak dengan pihak perusahaan, jangan dulu di lanjutkan secara permanen poskonya. Apabila terjadi konflik, nanti akan dapat mengganggu kamtibmas yang akan merugikan kita semua," ucap Kanit Intel Polsek Tebingtinggi.


Setelah pemaparan yang disampaikan Kanit Intel Polsek T.Tinggi, Budi Hartono selaku Koordinator menyampaikan beberapa pernyataan guna menyikapi apa yang di inginkan perwakilan pihak polres tersebut.


"Kami sudah berupaya semaksimal mungkin mengadakan komunikasi secara kondusif dengan pihak PT. NPK yang di fasilitasi oleh Pemkab Sergai, namun sama sekali tidak pernah di gubris. Yang lebih naifnya lagi, Pihak PT. NPK yang mengatur jadwal ulang pertemuan, namun NPK juga yang tidak menghadirinya. Setingkat surat resmi saja dari Pemkab Sergai tidak mereka hargai, apalagi kami masyarakat kecil," ujar Budi Hartono.


Lanjutnya, kami pada dasarnya tidak menginginkan terjadi benturan fisik dengan para karyawan scurity/centeng PT. NPK karena mereka itu juga saudara kita. Maka seharusnya pihak management PT. NPK jangan menjadi drakula yang bersuka cita bila melihat darah berceceran nantinya.


" Penyelesaian kasus ini sebenarnya sangat gampang bila Pihak PT. NPK mau duduk satu meja dengan membuka data masing-masing. Bila memang tempat yang kami dirikan posko itu merupakan wilayah HGU, maka kami akan mundur dengan damai," tutur Budi Hartono.


Berhubung Kanit Intel Polsek Tebingtinggi memohon pengertian pihak masyarakat untuk mundur dari lokasi, pihak keluarga besar masyarakat penggarap menyetujuinya dengan komitmen, tidak merusak posko masyarakat dan jangan ada aktifitas di areal tanah sengketa tersebut sampai adanya kejelasan status dan selanjutnya kelompok masyarakat mundur dari lokasi karena Kanit Intel akan menyampaikan permintaan tim kuasa kepada pihak PT. NPK begitu juga kepada Kapolres dan Kapolsek Tebingtinggi.


Namun PT. NPK kembali menunjukkan sifat arogansinya. Posko masyarakat penggarap di robohkannya sehingga berpotensi menabuh genderang perang karena merusak bangunan tersebut.


"Saya berusaha menenangkan masyarakat penggarap dan saya sudah mengimformasikan kejadian pengerusakan ini kepada Kabag. Hukum Pemkab Sergai, Kasat Intel Polres dan Kanit Intel Polres Tebingtinggi untuk mendapatkan solusi atas kejadian pengerusakan ini dan bila dalam waktu dekat tidak ada solusi, maka keluarga masyarakat penggarap akan melakukan aksi balasan kepada PT. NPK dan mencari oknumnya. Semut kecil saja di ganggu pasti menggigit," tutup Budi Hartono Koordinator Penerima Kuasa.

(AR)